Mengajar Karena Tak Bisa

He who can, does. He who cannot, teaches.

-George Bernard Shaw-

Saya akan mengawali tulisan ini dengan sebuah pernyataan : “Saya mengajar karena saya tidak bisa”

Saya adalah pengajar keterampilan Komputer : Desain Komunikasi Visual di Madrasah Aliyah Al Hikmah 2 (Pondok Pesantren Al Hikmah 2), desa Benda, kecamatan Sirampog, kabupaten Brebes. Mungkin anda akan bertanya, mengapa di Madrasah Aliyah juga mengajarkan program keterampilan DKV?

Well, jawaban versi sederhananya (versi saya) adalah “Madrasah adalah sebuah wadah pendidikan yang masih mencari bentuk”

Secara garis besar pemerintah (Kementerian Agama) mencanangkan 5 jenis Madrasah Aliyah:

  1. Madrasah Aliyah Keagamaan
  2. Madrasah Aliyah Akademis
  3. Madrasah Aliyah Terpadu
  4. Madrasah Aliyah Bahasa
  5. Madrasah Aliyah Ketrampilan

Namun bentuk-bentuk ini masih dalam bentuk wacana dan dalam proses perwujudan formal yang sesungguhnya.

Nah, MA Al Hikmah 2 (atau selanjutnya akan saya sebut malhikdua school) tempat saya mengabdikan diri sekarang menerapkan 3 bentuk madrasah tadi. MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan), Imersi (Akademis), dan MAT (Terpadu).

Saya saat ini mengajar 2 subyek pelajaran. Di program Imersi saya mengajar “Konsep Pemrograman Prosedural”, sebagai bagian persiapan peserta Olimpiade Sains Komputer. Sedangkan di program Terpadu, saya mengajar keterampilan “Komputer : Desain Komunikasi Visual”.

Nah, kembali ke judul yang saya pilih di atas, mengapa saya memilih mengajar karena saya tidak bisa?

Kenyataannya saya memang pernah berkarir di dua bidang di atas, namun saya tidak menemukan diri saya dalam sebuah kemapanan psikologis, sesuatu yang umumnya disebut dengan passion.

Berbeda dengan mengajar.

Saat mengajar saya menemukan energi yang terus-menerus terisi kembali, sesuatu yang mendorong saya untuk mandi subuh dan bersiap menyongsong hari. Sesuatu yang mendorong saya untuk belajar dan membuka buku-buku baru. Sesuatu yang mendorong saya untuk menikmati kabut pagi dan menyeruput secangkir kopi.

Akhirnya saya tutup tulisan saya ini dengan ucapan untuk murid-murid saya dimanapun mereka berada sekarang “maafkan pak Isnan yang mengajar karena tak bisa”.

(Tulisan ini juga bisa dibaca di sini)

2 thoughts on “Mengajar Karena Tak Bisa”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *